Saat itu kudengar namamu disebut oleh malaikat dalam mimpi,
Kau adalah pengantin abadiku.
Kuterbangun dari mimpi,
Kutemukan dirimu menantiku di ujung jalan,
Dengan sekeranjang batu dari surga….
“Maa syaa Allah! Sepagi ini sudah dimulai? Keterlaluan!” Asma’ tergopoh menuju ruang tengah, melihat situasi di jalanan depan rumahnya. Ia menggigit bibir, menahan perih dalam hatinya. Memikirkan anak-anak didiknya di masjid samping rumahnya. Bagaimana hafalan mereka, sudah sampai juz berapa.
Asma’ terkejut saat pundaknya ditepuk oleh adik lelakinya. Usia mereka terpaut dua tahun. Asma’ adalah gadis tujuh belas tahun.
“Hai Asma’! Apa yang kaulakukan di sini. Sudah lewat waktu dluha tetapi kau masih diam saja. Bagaimana murid-muridmu!”
Asma’ tersentak. Ia merasa diingatkan, seharusnya ia mengurusi murid-muridnya, bukannya malah terbengong saja melihat pemandangan biasa di luar rumah. Ya, hari ini, Israel kembali menyerang Gaza untuk ke sekian kalinya. Nampaknya pemboikotan sudah tak begitu mempan bagi warga Gaza, mereka tetap bertahan. Mempertahankan bumi yang di dalamnya terletak masjid yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Isra.
“Kau benar wahai Firaz! Baiklah aku akan segera menemui murid-muridku!” tak lama kemudian, Asma’ masuk ke kamarnya, mengenakan cadar lantas melangkah keluar rumah dengan lapang. Sesekali terdengar dentuman senjata-senjata Israel, namun itu tak menyurutkan langkahnya menemui murid-muridnya di masjid seperti biasanya.
Anak-anak kecil usia lima sampai sepuluh tahun berbaris menantinya di teras masjid—yang bangunannya sudah tak utuh lagi—menanti Asma’ sang guru. Di wajah mereka tampak semburat sinar keperkasaan tanpa sedikitpun rasa takut. Asma’ telah menanamkan benih-benih keberanian dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga tatkala Asma’ menghampiri mereka, berebut satu persatu dari anak-anak kecil itu berteriak, “Ummi kapan kita berperang!”
“Ummi, kita harus mempertahankan tanah kaum Muslimin ini…” “Tak adakah Ummi, saudara kita dari negeri-negeri kaum Muslimin lainnya yang mendengar teriakan kita meminta bantuan?”
Asma’ menitikkan airmata di balik cadarnya, ia begitu terharu mendengar permintaan murid-muridnya untuk berjihad melawan kafir penjajah. Mereka masih sangat muda, namun pemikirannya sudah sangat jauh melesat melebihi anak-anak lain seusia mereka. Perang dan kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Asma’ sering menceritakan, bahwa jiwa para syuhada itu akan terus hidup dan masuk surga atas izin Allah. Jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.
“Ummi….Ummi…….!!!” teriak mereka. Asma’ lalu mengajak mereka masuk ke masjid, menenangkan mereka semuanya yang jumlahnya selalu tak pernah berkurang justru semakin bertambah. Sepuluh orang kini.
“Dengarkan Ummi. Meski jumlah kalian sepuluh orang, Allah akan melipatgandakannya menjadi ratusan bahkan ribuan sehingga kafir penjajah itu akan kewalahan menghadapi kalian.”
Kata-kata itu semakin mengobarkan semangat jihad mereka. Asma’ kemudian mengecek hafalan mereka. Yang paling besar, Umar, paling pendiam di antara semuanya sudah hafal 30 juz. Dua hari yang lalu ia membacakan seluruh isi Al-Qur’an dan kini ia hanya ingin segera keluar masjid untuk melawan Israel. Usianya, sembilan tahun.
***
Kau adalah pengantin abadiku.
Kuterbangun dari mimpi,
Kutemukan dirimu menantiku di ujung jalan,
Dengan sekeranjang batu dari surga….
“Maa syaa Allah! Sepagi ini sudah dimulai? Keterlaluan!” Asma’ tergopoh menuju ruang tengah, melihat situasi di jalanan depan rumahnya. Ia menggigit bibir, menahan perih dalam hatinya. Memikirkan anak-anak didiknya di masjid samping rumahnya. Bagaimana hafalan mereka, sudah sampai juz berapa.
Asma’ terkejut saat pundaknya ditepuk oleh adik lelakinya. Usia mereka terpaut dua tahun. Asma’ adalah gadis tujuh belas tahun.
“Hai Asma’! Apa yang kaulakukan di sini. Sudah lewat waktu dluha tetapi kau masih diam saja. Bagaimana murid-muridmu!”
Asma’ tersentak. Ia merasa diingatkan, seharusnya ia mengurusi murid-muridnya, bukannya malah terbengong saja melihat pemandangan biasa di luar rumah. Ya, hari ini, Israel kembali menyerang Gaza untuk ke sekian kalinya. Nampaknya pemboikotan sudah tak begitu mempan bagi warga Gaza, mereka tetap bertahan. Mempertahankan bumi yang di dalamnya terletak masjid yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Isra.
“Kau benar wahai Firaz! Baiklah aku akan segera menemui murid-muridku!” tak lama kemudian, Asma’ masuk ke kamarnya, mengenakan cadar lantas melangkah keluar rumah dengan lapang. Sesekali terdengar dentuman senjata-senjata Israel, namun itu tak menyurutkan langkahnya menemui murid-muridnya di masjid seperti biasanya.
Anak-anak kecil usia lima sampai sepuluh tahun berbaris menantinya di teras masjid—yang bangunannya sudah tak utuh lagi—menanti Asma’ sang guru. Di wajah mereka tampak semburat sinar keperkasaan tanpa sedikitpun rasa takut. Asma’ telah menanamkan benih-benih keberanian dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga tatkala Asma’ menghampiri mereka, berebut satu persatu dari anak-anak kecil itu berteriak, “Ummi kapan kita berperang!”
“Ummi, kita harus mempertahankan tanah kaum Muslimin ini…” “Tak adakah Ummi, saudara kita dari negeri-negeri kaum Muslimin lainnya yang mendengar teriakan kita meminta bantuan?”
Asma’ menitikkan airmata di balik cadarnya, ia begitu terharu mendengar permintaan murid-muridnya untuk berjihad melawan kafir penjajah. Mereka masih sangat muda, namun pemikirannya sudah sangat jauh melesat melebihi anak-anak lain seusia mereka. Perang dan kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Asma’ sering menceritakan, bahwa jiwa para syuhada itu akan terus hidup dan masuk surga atas izin Allah. Jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.
“Ummi….Ummi…….!!!” teriak mereka. Asma’ lalu mengajak mereka masuk ke masjid, menenangkan mereka semuanya yang jumlahnya selalu tak pernah berkurang justru semakin bertambah. Sepuluh orang kini.
“Dengarkan Ummi. Meski jumlah kalian sepuluh orang, Allah akan melipatgandakannya menjadi ratusan bahkan ribuan sehingga kafir penjajah itu akan kewalahan menghadapi kalian.”
Kata-kata itu semakin mengobarkan semangat jihad mereka. Asma’ kemudian mengecek hafalan mereka. Yang paling besar, Umar, paling pendiam di antara semuanya sudah hafal 30 juz. Dua hari yang lalu ia membacakan seluruh isi Al-Qur’an dan kini ia hanya ingin segera keluar masjid untuk melawan Israel. Usianya, sembilan tahun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar