Jumat, 12 November 2010

Menjemput Keagungan Cinta 1

Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan laki – laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya dan menganugrahkan nikmat pernikahan kepada hamba-Nya, sehingga dengannya hati menjadi tenang. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Pernikahan adalah saat yang paling dinanti oleh seorang ikhwan dan akhwat, yaitu mengikrarkan satu ikatan yang halal dalam melaksanakan kewajiban mewujudkan sakinah, mawahdah dan rahmah.

Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahala di sisi Alloh. Pernikahan telah mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan manusia dalam beragama. Alloh menyempurnakan setengah dien (agama) ketika seseorang melakukan pernikahan.

Kalau pasangan suami-istri itu berhubungan intim, akan mendapatkan pahala sholat Dhuha. Kalau suami meremas-remas jemari istri dengan remasan sayang, dosa-dosa mereka berdua berguguran. Kalau suami menyenangkan istri sehingga hatinya bahagia dan diliputi suka-cita, mereka hampir sama dengan menangis karena takut kepada Alloh. Subhanallah. Maha Suci Alloh. Ia memberi keindahan. Ia juga memberi pahala dan ridha-Nya. Rasanya gambaran tentang keluarga bahagia terbentang indah di depan pelupuk mata.

Namun perlu di ingat, pernikahan bukanlah peristiwa sehari yang kemudian begitu saja berlalu. Pernikahan adalah sebuah gerbang dalam pengarungi bahtera rumah tangga. Maka, alangkah bahagianya bila kita bisa menjadi pengantin sepanjang masa. Kehidupan rumah tangga yang bahagia dimulai dari memilih pasangan hidup yang sholeh dan melalui pintu gerbangnya (proses) dengan selamat. Sering kali ikhwan dan akhwat lebih mengutamakan cinta daripada agama pasangannya. Padahal cinta sejati adalah cinta yang tumbuh setelah menikah.

Beberapa waktu lalu penulis telah mengisahkan tentang sedikit gambaran bagaimana proses/perjalanan dua insan dalam mencari cintanya sebagai upaya menyempurnakan dien Alloh dan Sunnah Rosululloh, mestipun akhirnya keduanya tidak sampai pada jenjang pernikahan. Tapi inilah proses, sebuah ikhtiar demi menjaga keridhoan Alloh, masalah hasil itu urusan Alloh, karena cara yang benar adalah 80% dari kesuksesan.

Berikut penulis akan mengisahkan sepenggal kisah dari proses ta’aruf hingga masa-masa setelah menikah. Ada sedikit tingkah nyeleneh, mangkelke, tapi tetap mesra dan justru tingakah-tingkah itulah seni dari masa-masa indah tersebut yang selanjutnya akan menguatkan cinta dua insan yang bertasbih dikemudian hari.

Sebut saja Ashar, seorang ikhwan yang baru saja lulus S1 Tehnik Mesin Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, aktivis dakwah berumur 25 tahun. Dan Afifah, seorang akhwat yang masih kuliah di Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta, semester akhir yang berusia 21 tahun. Berikut kisahnya lebih lanjut :

Pagi itu hari nampak cerah, matahari bersinar dengan terangnya, suasana rumah pun nampak ramai karena semua keponakannya kebetulan berkumpul dirumah. Tetapi hati Ashar nampak gelisah memikirkan rencananya untuk menikah, sebab sudah 4 kali orang tuanya menolak saat disodorkan biodata akhwat, dan Ashar pun tetap bersabar serta menurut apa kata orang tuanya. Mereka berharap agar Ashar bekerja dulu sebelum nikah.

Sebenarnya Ashar pun tahu apa harapan orang tuanya, tapi desakan demi desakan, tawaran demi tawaran dari para ustad membuat Ashar jadi tidak berkutik, tidak ada alasan untuk menolak, karena memang sudah saatnya. Akhirnya setiap biodata yang masuk padanya pun benar-benar ditawarkan kepada orang tuanya satu per satu, tentunya tidak bersamaan. Setiap kali dapat biodata dari ustad, maka dia terima kemudian ditawarkan ke orang tuanya, setelah orang tuanya terlihat tanda-tanda tidak setuju, biodata dikembalikan pada ustad perantara tersebut dan dinyatakan tidak berlanjut. Kemudian ketika datang biodata lagi, maka Ashar melakukan hal yang sama dan seterusnya sampai 4 biodata akhwat. Dan inti dari tidak disetujuinya biodata-biodata itu adalah karena Ashar belum bekerja.

Hari demi hari berjalan begitu sepi, mesti aktifitas dakwahnya di kampung tetap berjalan. Minggu demi minggu berlalu, hingga Ashar sempat bernadzar dalam sholat tahajudnya, “Ya Alloh, mudahankanlah jalan hamba, mudahkanlah rizki hamba dan lapangkanlah hati hamba, demi Engkau yang menggenggam diri ini hamba bernazar jika nanti hamba telah bekerja, maka hamba akan segera menggenapkan setengah agama hamba (menikah). Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati ini, maka hamba mohon tetapkanlah hati hamba untuk senantiasa dijalan-Mu. Amin”.

Hingga suatu hari akhirnya, datang kabar gembira lewat surat yang tidak diduga-duga setelah beberapa bulan lalu Ashar ikut test disebuah perusahan di Bandung. Selembar surat yang berisi, bahwa Ashar diterima kerja disebuah perusahaan di Bandung dan diharap kehadirannya senin depan untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Seketika wajah Ashar menjadi ceria, benak Ashar pun langsung tertuju pada nikah, sebab orang tuanya sempat menjanjikan boleh langsung nikah kalau sudah kerja, dengan demikian kesempatan untuk nikah itu telah terbuka dan Azhar pun ingat betul dengan nadzarnya.

Selang satu minggu, Ashar berangkat ke Bandung untuk melengkapi berkas-berkas kerja. Ashar hanya di Bandung 3 hari, setelah semua dirasa cukup dia pun pulang ke Jogja lagi karena kerjanya masih mulai bulan depan.

Sepulang dari Bandung, kabar gembira itu disampaikan kepada orang tuanya, bahwa bulan depan dia sudah mulai kerja dengan gaji sekian. Suasana bahagia itu menyelimuti keluarga, saudara dan para tetangga, termasuk santri-santri TPA binaannya, mesti nanti bakal ditinggal pergi.

Magrib pun tiba, Ashar bersama ayah dan saudara-saudara laki-lakinya sholat jama’ah dimasjid. Sepulang dari masjid bersama-sama makan malam. Di suasana yang bahagia dan mumpung berkumpul semua keluarganya, Ashar berkata pada orang tuanya, “Ayah-Ibu, InsyaAlloh bulan depan Ashar sudah bekerja, bolehkan Ashar segera menikah??”.
Sang ibu pun tersenyum sambil menganggukkan kepala, tak kuasa mengahalangi niat Ashar yang memang begitu sabar dan patuhnya pada orang tua atas penolakkan biodata beberapa akhwat yang diajukan beberapa waktu lalu. Terharu, terlihat air mata bahagia dari mata sang bunda atas kejadian ini. Dan ibunya pun masih ingat betul janjinya untuk ijinkan nikah setelah kerja. Malam pun tiba, sejak hari-hari itu Ashar diliputi perasaan yang bahagia.

Seminggu setelah hari itu, Ashar mulai siapkan selebar kertas, kemudian menulis biodata tentang dirinya, sebagai berikut :

BIODATA PRIBADI

Nama              :  Ashar Hidayat
TTL                 :  Yogyakarta, 14 Januari 1985
Alamat            :  Celeban Timur UH III/552 Yogyakarta.
Telpon/email   :  -------- / Azharhidayat@yahoo.co.id
Riwayat Pendidikan :
-           SDN 1 Celeban Yogyakarta          (1990-1997)
-           SMPN 3 Celeban Yogyakarta       (1997-2000)
-           SMUN 1 Celeban Yogyakarta      (2000-2003)
-           Fakultas Teknik Mesin UGM         (2003-2008)
TB/BB                        :   168 Cm / 60 Kg.
Pengalaman Organisasi :
-           Ketua OSIS SMPN 3 Celeban Yogyakarta           (1999)
-           Ketua ROHIS SMUN 1 Yogyakarta                    (2001)
-           Ketua OSIS SMUN 1 Yogyakarta                        (2002)
-           Litbang Majalah Tehnik UGM                               (2005)
Kajian Islam Yang di Ikuti Sampai Saat ini :
-           Kajian Ust. Muh. Fauzil Adhim, setiap hari Selasa bada Magrib sampai Isya’ di masjid UGM.
-           Kajian Hadits Arba’in oleh Ust. Abu Umar Abdillah, setiap Kamis bada Magrib sampai Isya’ di Masjid Prambanan.
Ketrampilan   :  Desain Grafis
Hobi                  :    -
Anak ke           :   Anak ke 3 dari 5 bersaudara.
Data Keluarga  :
-           Ayah : Muhammad Yusron, 50 tahun,  S1 Tehnik,  Wiraswasta, InsyaAlloh pemahaman terhadap dien lumayan.
-           Ibu :  Hamidah, 48 tahun,  SMU, Ibu rumah tangga, InsyaAlloh paham terhadap dien.
-           Kakak  1 :  Nurul Hamidah, 32 tahun, S1 FKIP, InsyaAlloh pemahaman terhadap dien lumayan.
-           Kakak 2 :  Muhammad Saleh , 30 tahun, S1 Tehnik, InsyaAlloh paham terhadap dien.
-           Kakak  3 :  Muhammad Ghufron, 28 tahun, S1 Ekonomi, InsyaAlloh pemahaman terhadap dien lumayan
-           Adik :  Fatih Hidayat, 23 tahun, S1 Kedokteran, InsyaAlloh paham terhadap dien.
Karakter  :
+    Sabar, kalau marah biasanya banyak diamnya
+    Ceria dan sederhana
+    Idealis, tapi tenang dalam setiap menghadapi masalah
-           Agak egois
-           Mudah lupa
Diskripsi  :
-           Kulit Sawo Matang
-           Rambut Ikal
-           Penyakit yang pernah diderita : typus
Hal-hal Yang Disukai Dari Orang Lain :
-           Penyayang
-           Jujur dan Terbuka
-           Sabar
Hal-hal Yang Tidak Disukai Dari Orang Lain :
-           Lelet
-           Keras Kepala
Pekerjaan       :  Bekerja di sebuah Perusahaan di Bandung.

Setelah selesai menulis biodata, maka Ashar segera melipatnya dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop kecil dengan disertai 2 foto berukuran sedang (1 posisi setengah badan dan 1 terlihat seluruh badan).

Keesokan harinya, dua hari menjelang keberangkantan Ashar ke bandung, dia menemui ibunya yang sedang berada didapur, sambil membantu ibunya memasak, Ashar berkata, “Ibu, hari ini Ashar mau menemui Ust. Halim untuk ajukan biodata. Tapi Ashar belum tahu kriteria calon istri seperti apakah yang harus saya ajukan ke beliau. Bagi Ashar apapun asal ibu ridho, Ashar juga akan ridho. Ibu, ibu ingin menantu yang bagaimana, sampaikanlah pada saya, InsyaAlloh Ust. Halim biar mengusahakannya…”.

Sang ibu yang sedang memegang pisau dan memotong sayur segera meletetakkan pisau yang ada ditangannya, kemudian memusatkan pandangannya kepada Azhar sambil tersenyum, tangan sang ibu mengelus kepala Ashar dan berkata,  “Ashar, Ashar, kalau bagi ibu sih yang penting sholehah, kalau sholehah itu dia akan berbakti pada suami dan bisa menempatkan diri (bagaimana harus bersikap dalam segala keadaan). Ya kalau ibu suruh milih kriteria, sebenarnya  ibu sangat ingin memiliki menantu seorang Ustadzah, syukur-syukur Sarjana. Tapi itu tidak gak harus lho, kalau memang adanya Ustadzah yang lulusan pondok (setaraf SMU) juga gak apa-apa, kamu terima saja ya kalau memang kamu mantap”.

Ashar menjawab, “Baiklah bu, kalau gitu sekarang saya akan telpon dulu ke Ust. Halim untuk tanyakan bisakah hari ini saya bertemu  beliau, kalau bisa saya akan segera temui beliau untuk sampaikan biodata dan pesan ibu ini, do’akan ya bu semua lancar “.

Ashar pun mengambil hanphone dan menelpon Ust. Halim,  “Assalamu’alaikum Ust ??“
Ust. Halim pun menjawab, “Wa’alikum salam… Subhanalloh akhi karim (akhi yang baik) ada apa?”
Ashar berkata, “Ust. afwan hari ini antum ada waktu tidak, ana ingin bertemu, ada sesuatu yang ingin ana sampaikan kepada  Ust?“.
Ust. Halim menjawab, “Iya InsyaAlloh ada, nanti ba’da Dhuhur di kantor ana gimana bisa gak?“.
Ashar menjawab, “Iya, Ust InsyaAlloh ana bisa. Baik  sementara gitu saja dulu Ust, ilal-liqo’ (sampai bertemu lagi), Wassalam…”
Sang ustad pun menjawab, “Alaykumus salam“.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar