Petugas kebersihan berseragam biru-biru, Bandara Soekarno Hatta, mengambil beberapa potong kertas dari bawah kursi ruang tunggu VIP yang telah sepi. Memasukkannya kedalam kotak orange yang sejak seharian selalu menemaninya. Dilihatnya sebuah Koran di kursi paling pojok. Diraihnya, sebelum Ia tersadar di balik Koran itu ada sebuah buku bersampul biru. Milik siapakah buku ini? Kasian sekali pemiliknya, pasti sangat merasa kehilangan. Dia buka cover buku itu. Halaman pertama. Sepotong tulisan pendek… “Samudra” Tangan tuanya membalik lembar pertama dengan hati-hati seolah takut mengotori lembaran bersih buku itu. ***
(Biru, seorang yang selalu aku cintai, semoga Tuhan selalu bersamamu. Mendekapmu dalam kasih-Nya).
***
Diurungkan niatnya untuk membalik halaman kedua. Merasa tidak memiliki kewenangan untuk membaca buku milik orang lain. Di letakkan buku itu pada tempat semula. Kemudian membalikkan badannya dan beranjak pergi. Baru beberapa langkah, dia berhenti. Seandainya, ada orang yang mengambilnya?!
***
Rumah kontrakan yang sempit itu adalah satu-satunya tempat Ia bernaung dari panas dan hujan, selama ia mencari nafkah di kota besar ini, untuk menghidupi keluarganya yang Ia tinggalkan di kampung halamannya. Setelah melepas lelah dan makan malam alakadarnya, ia merebahkan badannya. Pandangannya terhenti pada
sebuah buku di atas lemari tua, satu-satunya benda dalam ruangan itu. Buku bersampul biru yang tadi siang Ia temuakan di bandara tempat Ia bekerja.
***
Aku bangkit dari kursi setelah layar monitor komputerku mati. Kuhampiri jendela lantai dua puluh satu apartemenku. Lalu lintas di bawah sana masih sangat ramai, kulirik jam tanganku, menunjukkan jam 17.35. Pantas saja suasana lalu lintas begitu ramai, dan pantas saja perutku terasa sangat perih. Jam makan siang sudah jauh terlewat rupanya, bahkan sarapanpun merupakan hal yang aneh bagiku. Kusambar jaket kulit kesayanganku, kukenakan sambil berjalan menuju Lift. Kunyalakan Pak menteri B. 511 BR, mobil besar kesayanganku. Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di antrean panjang, sepanjang pusat perkantoran di kota tempat tinggalku saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih spagheti house untuk mengisi perutku yang semakin perih. Ku hampiri satu-satunya meja yang kosong di pojok kanan restoran tersebut. Rupanya banyak juga yang telat makan. Akh, sok tau sekali aku. Mungkin mereka hanya menghabiskan waktu menunggu lalu lintas agak sepi untuk menghindari macet, jadi sekedar duduk-duduk bersama temannya. Tertawa dan bercanda sambil melepas lelah setelah seharian bekerja. Aku memesan Cheese Burger dan segelas cola dingin. Sambil menuggu pesanan, aku buka majalah yang tadi sempat aku beli di depan restoran,
mmm..tidak ada yang menarik perhatianku.
****
Pesananku datang tepat ketika Lima orang anak remaja laki-laki dan seorang perempuan masuk dan langsung jadi pusat perhatian! “Hahahahaha, give me five…” “Lo keren banget waktu maen tadi Sha! Sumpah..!” “yo'a, guee!” Si gadis yang dipanggil “Sha” dengan bola basket ditanganya hanya tersenyum. Gadis itu mengingatkan aku pada sosok “Biru”, satu-satunya gadis paling cuek yang pernah aku kenal yang hingga saat ini tidak mau beranjak dari hatiku.. “Tuhan, apa kabar Biruku…?” bisikku dalam hati. “Sha.. lo mo makan apa?” “mmmm… bentar masi bingung, aku masiiii seneng bangeeeet, aku nggak ngira bakal menang Jo.. ” Tuhan, aku nggak ingin memandang ke arah mereka, tapi sialnya mejaku persis di sebrang meja mereka. Gigitan pertama di Cheese Burgerku terasa sangat pahit menyaksikan kehangatan mereka, menyaksikan cara bicara gadis itu, tawanya, senyumnya.. Akh Tidak! Terbayang dengan jelas sosok Biru lima tahun yang lalu, sama persis dengan gadis pemain basket di depanku! Sejak kecil aku selalu merasa bahwa aku adalah makhluk yangaling dimanjakan oleh Tuhan didunia ini. Bagaimana tidak, akumemiliki orang tua yang penuhcinta dan kehangatan. Mom yangcantik, lembut. Dad yang gagahdan menyenangkan. Aku tidakpernah kekurangan apapunselama hidupku.Tapi pada akhirnya semuaberubah begitu cepat. ketika akuberanjak dewasa dan jatuh cintapada seorang bernama Biru .Seorang perempuan biasa yanglembut, ramah, penuh cinta tapisangat memegang prinsip.“Sam, kamu tahu kita berbeda,kita tidak bisa bersama. Agamayang aku yakini, melarang akumenikah dengan kamu. Aku tidakbisa melanjutkan ini. Ingat Sam,ketika kita sedang berjalan ditepi pantai, semakin kitaketengah akan semakin sulit kitakembali. Selagi kaki-kaki kitabelum basah, selagi kita masih ditepi, sebaiknya kita kembali. Akutidak bisa menjadi kekasihmu. ”saat kau mengucapkan itu, akumelihat dari sorot matamu yangpaling jujur dan aku sangatmeyakininya. rasa cintamupadaku sebesar rasa cintakupadamu. Kenapa pergi Biru?!kenapa?!Tuhan menciptakan sebongkahyang bernama “perasaan” yangindah, tapi sangat sulit akupahami.Begitu pahit dengan cerita sedihyang tidak berkesudahan karenasebuah perbedaan. Tapi jugamembawakan sebongkahkebahagiaan yang tak terhingga.Itulah terakhir aku melihatnya..
***
Hampir satu jam aku berada dipelataran parkir. Tak terasapipiku basah.Ku kenakan kaca mata hitamku.Menghidupkan pak menteri dankeluar dari pelataran parkir.Beberapa orang gadismenatapku, bahkan ada yangnekad berteriak “hai gondrong,godain kita dong..”“so cool banget seeh..”Akh, peduli apa dengan mereka.Inilah aku. Inilah hidupku.Aku membuka pintuapartemenku. Sepiiii… setiap hariselalu seperti ini. Sepiii.. dansepiii..Ku hempaskan tubuhku di ataskarpet di samping tempat tidur.Ku buka laci kecil dan kukeluarkan beberapa pilpenenang dari botolnya.Ku isap dalam-dalam Malboroku.Pahit tercekam ditenggorokanku. Tenggorokankumakin sesak saat kuingat adegandi spagheti house tadi.Sedang apa Biru sekarang..?Semua kenangan seperti filmyang diputar kembali dalamingatanku. Tentang sosokbernama Biru, pertama kalibertemu dengannya saat akudatang ke satu kota untuk ikutujian masuk perguruan tingginegeri.Tidak ada kesan apapun tentangBiru, tapi setelah hampir setiaphari minggu sepulang dari Gerejaaku bertemu dengan dia. Masihtidak ada yang istimewa.Akhirnya aku harus bertemusetiap hari dengan Biru disebuah tempat bimbinganbelajar favorit di kota itu.Masih belum ada yang istimewa..Sampai suatu sore, aku papasanditempat parkir dengan Biru,pandangan kami bertemu, itulahpertama kalinya aku bertatapandengan Biru, saat memandangke dalam matanya ada yangbergetar di dalam sini, dan akutidak tahu itu apa.“Hai..” sapaku“Hai juga.” Biru tersenyumlembut sekilas, tapi sungguhsenyumnya membuat aku salahtingkah.Aku membenikan diri..“Aku Samudra, panggil aja Sam,kita sekelas tapi nggak kenal..”“Aku Biru..”Sejak perkenalan itu, selain ditempat les, kami sering bertemutanpa disengaja, di toko buku, ditoko kaset, di taman bacaan, dilapangan olah raga umum.Biru sipecinta basket.Ntah mulai dari mana, aku makindekat dengan Biru. Biru yangperiang. Biru yang tidak pernahkehabisan ide. Dengannya akubisa tertawa sekeras-kerasnya.Setiap hari minggu, sepulangdari Gereja aku menjemput Birudari mentoring di ITB (sejenissekolah minggu mungkin kalo diagamaku).Aku mulai sering rindu tawanya.Kejahilannya. Ide-ide segarnya.Tidak pernah sekalipun akumerasa bosan ada disampingnya.Aku masih ingat ketika denganhalus Ia menepis tanganku, saattanganku hendak menyentuhpipinya ketika dia menangis.Biru tidak pernah membiarkan
aku menyentuhnya. Diamenyampaikannya begitu halus,kenapa dia tidak mau disentuh.Alasan yang tidak aku pahamipada mulanya, muhrim, khalwat,dan lain-lain. setelah aku kenalRaffa barulah aku mengerti.salahkah aku semakin inginmemilikinya.Isakku tak dapat ku tahan lagi.Aku sangat merindukan Biru.Aku tahu ini sangat cengeng, tapiseolah-olah biru sudah masukkedalam darahku, menyatudengan hatiku, pikiranku. Hah!Ini sungguh gila!Terakhir aku melihatnya limatahun yang lalu sebelum akumemutuskan lari dari rumahsuatu malam di mana untukpertama kalinya tangan Dadmenyentuh pipiku! Lebihtepatnya menampar pipiku!Hardikkannya masih terngiangditelingaku!“Mempelajari Islam?!”“Apa maksud kamu?!!”“Tidak!”Rasa sakit di wajahku tidak
seberapa, tapi sakit di dalam siniyang tak terhingga.Memang aku yang bersalah. Akumelakukan sebuah kesalahanyang tak termaafkan. Aku pantasuntuk mendapat tamparan dariDad.Aku begitu merindukannya.Biru …!Kenangan akan Biru mengusikkukembali.Lima tahun sudah semuanyaBerlalu. Dalam lima tahun itu akutidak pernah berhenti mencaritahu tentang Biru. Aku tahupersis dimana dia berada. Akutahu betul dia sekolah dimana.Aku tahu betul Biru tidakmemiliki kekasih, sampai denganhari ini. Dan benar atau tidak,aku yakin masih ada cintauntukku di hatimu.Sempat terlintas untukmenelponnya saat aku akandiambil sumpah. Seandainya Birutahu, aku berhasil jadi Dokter.Tapi aku belum sempat berbuatuntuk sesame melalui profesiku.
Ntahlah Biru..Aku memang seorang laki-lakiyang egois, aku tidak mudahbergaul, aku tidak punya banyakteman. Aku terlalu sombong danangkuh untuk menunjukkanbahwa aku membutuhkanseseorang.Aku memang terbiasa mandiri.Dan aku mampu melakukanapapun sendiri. Sangat mampu.Yang aku tidak mampu lakukanadalah … berhenti mencintaimu.Berhenti memikirkanmu.Aku bukan orang yang cengengBiru, kamu tahu seumur hidupku,baru tiga kali aku menangis.Tapi hari ini sudah lebih dari duakali aku menagis. Hari ini saja.Aku kesepian Biru..Semakin deras isakku. Aku raihponselku, kutekan sederetnomor yang sudah sangat akuhafal. Hanya saja aku tidaksanggup untuk menyimpannyadi dalam phone bookku.“Halloo.. Assalamualaaikuum…”“Hallo… siapa ini”………………………………Bergetar hatiku mendengarsuara yang sudah sangat akukenal, aku tidak bisa berkata apa-apa.Dinginnya AC ruangan kamarkumembuat hatiku semakin dingindan membeku.Ku hisap rokok terakhirku, pahit.Sepahit apa yang aku rasakansaat ini. Hatiku berdarah.Dengan pakaian lengkap,kubiarkan air dingin deras darishower membasahi rambut danseluruh tubuhku.Cairan hangat semakin derasmengalir di pipiku bersatudengan pancaran air shower.Kelepaskan tangisku sekuatnya,isak yang tadi kutahan pecahsudah. Membuat guncangan dibahuku. Lebih dari satu jam akumenangis di bawah shower.Ku kenakan handuk untukmembungkus badanku yangmulai mengigil. Handukkulangsung basah seketika, daribaju yang aku kenakan.Sayup-sayup terdengar suaraadzan. Hampir setiap subuh akumendengarnya, karena belumsempat memejamkan mata dantertidur.Malam-malam yang panjangkulewati dengan kerja dan kerjamengejar deadline tulisan-tulisanku. Sejak mengenal Biruaku mulai suka menulis dansanggup menghabiskan waktuberjam-jam di depan laptopku.Beberapa karyaku bertebaran
diluar sana.Suara adzan itu tidak pernahsekalipun membuat aku beranjakuntuk shalat. Aku merasa Tuhantidak adil, setelah aku masukIslam, setelah aku belajar banyakhal tentang Islam, setelah akumerasakan perihnya tamparanDad dipipiku. Setelah itu semua.Tuhan tetap saja tidak Bisamempersatukan aku denganBiru.Biru tetap jauh, bahkan semakinjauh, dan semakin sulit akujangkau.Ntah kenapa, pagi ini aku begiturindu shalat. Sesaat aku ragu,masih hafalkah aku bacaanshalat?Apa benar yang dikatakan Raffabahwa aku belum kaffah!Apa itu kaffah?!Apa benar aku tertarik Islamkarena aku menginginkan Biru?!Air wudlu membasahi wajahsembabku, ku ambil sajadahberwarna biru.Aku rentangkan dengan lembutdi atas karpet, lagi-lagi berwarnaBiru.Aku angkat kedua tanganku.Aku menyebut nama-NYa..Bergetar hatiku ketika nama-Nya.Tidak aku duga, bacaan shalatmasih melekat kuat dalamingatanku.Ruku.Sujud.sujud.…Rakaat pertamaku lancar.Rakaat kedua, agak terbata-bata,suaraku tersekat ditenggorokan,saat cairan bening mulai terasahangat di kedua pipiku.Aku meleleh, berserah dirisepenuhnya.Aku serahkan diriku, hidupkudan segala asa yang ada kepadaTuhan, pemilik hidupku.Aku mohon ampunan atas segaladosa, pengkhianatan danpengingkaranku akan kehadirandan cinta-Nya selama ini, begitulama aku berpaling dari-Nya.Begitu lama aku melupakan-Nya.Begitu lama aku hidup dalamkesendirianku tanpamemperdulikan dan tanpamengingat-Nya.Angkuh!Arogan!Aku pura-pura dungu!Pura-pura tidak tahu siapapemilik hidupku.Begitu lama aku terlena danmenggantungkan harapan padaBiru yang juga hanya sekedarmakhluknya, sama dengan aku.Sama dengan yang lain.Sujud terakhirku begitu lama,begitu dalam. Aku sungguh-sungguh merasakan kehadiran-Nya, keindahan berdua sajabersama-Nya. Begitu terasatangan kasih-Nya, mendekapkupenuh cinta.Inilah cinta yang selama ini akucari, Membuatku makin melelehdalam rasa damai.Begitu ringan rasanya tubuhku.Begitu ringan rasanya kepalaku.Beban yang selama inimenghimpitku hilang seketika.Sesak di dadaku hilang dalamsekejap.Maafkan aku Tuhan…Seandainya aku tau bagaimanakeindahan dan kenikmatan yangtak terhingga saat bersama-Muini sejak lama.Tidak akan pernah aku berpaling.Tidak akan pernah akumendustakan kasih dan cinta-Mu.Nyaman tak terhingga, damaiyang utuh. Penuh, menyeluruh.Masih dalam sujud terakhirku.Hening.Suasana dalam ruangan kamarkuhening. Hanya terdengar detakjam dinding.Aku masih sujud dan engganmelepaskan hangat dandamainya berada dalamdekapan-Nya.Kubiarkan diriku disana, dalamsujud panjangku.Perlahan aku rasakan sosok Birumenjauh.Menjauh..Tapi…Dia tersenyum, senyuman yangsudah sangat aku kenal.Apa betul yang aku rasakan ininamanya ikhlas seperti yangdikatakan Raffa.Hening…Tak kudengar lagi suara detakjam dinding kamarku.Tak kudengar lagi suara isaklembut karena bahagia.
***
Biru, pagi ini aku ada di BandaraSoekarno Hatta. Aku akan pergimenunaikan tugasku.Aku harus pergi ke Daerah untukmengabdikan diriku,mengamalkan ilmuku, banyakmereka yang membutuhkanuluran tanganku.Biru, aku sudah menitipkanmupada Tuhan. Aku sudahmelepaskanmu, bukan berartiaku melupakanmu.Aku berani melepasmu, karena-Nya.Berani bukan berarti tidak takut,Biru. Tapi ini pilihanku.Dan aku harus memilih.Benar apa yang kamu katakan,saat itu aku membiarkan kakikuterus berjalan, hingga ketengah,dan aku terluka oleh goresankarang saat aku ingin kembali.Biru, aku akan ke Yogya, disana
aku akan mulai semuanya dariawal, aku akan melakukanbanyak hal untuk saudara kitayang sedang menerima indahnyaujian dari Tuhan..Biru, ini terakhir kalinya akumenulis tentang perasaankupadamu.Mungkin aku tidak akan pernahmenulis lagi.Aku hanya akan menulis betapaindahnya mencintai yangseharusnya kita cintai..Yaitu mencintai-Nya, Biru..Mencintai Tuhan kita..Aku bersyukur Tuhan telahmerengkuhku, dengan caran-Nyasendiri yang begitu unik, yangtidak pernah kita sangka, tidakpernah kita duga.Aku merasa Tuhan bicara padakumelalui sederhananya kamu,bersahajanya kamu, polosnyakamu, apa adanya kamu..Terima kasih Tuhan..sudah saatnya ku kembalikansemua kepada Engkau, Tuhan.
***
Petugas kebersihan bandara itu,menutup lembar terakhir bukubersampul biru dengan gambarTulip kecil sebagai hiasancovernya.Tangan tuanya itu menyeka airmata yang membasahi wajahpenuh garis-garis.Dengan kaki yang mulai terasakesemutan, dia mencoba berdiri.Dibukanya lemari pakaian tuanya,buku itu diselipkan dengan hati-hati diantara beberapa lembarpakaiannya yang terlipat rapi tapisudah sangat usang. Diusapnyadengan lembut buku itu.Sekarang Ia tahu buku itusengaja ditinggalkan, mungkinSam sudah memiliki buku Biruyang baru.Direbahkan tubuhnya diatastikar, sebait doa lembut nan tulusterdengar lirih dari bibir tuanya,untuk seorang Sam, pemudayang tidak pernah dikenalinya.Doa yang tulus, doa yang tanpapamrih. Terpujilah cintamu Sam,engkau kembalikan pada satu-satunya Dzat yang memang layakkamu cintai sepenuhnya.Semoga, Tuhanmempertemukanmu Dengan Birudalam satu ikatan suci kelak, ahseandainya Biru tau bahwa Samsudah menjadi seorang muslimsejak lama.
(Biru, seorang yang selalu aku cintai, semoga Tuhan selalu bersamamu. Mendekapmu dalam kasih-Nya).
***
Diurungkan niatnya untuk membalik halaman kedua. Merasa tidak memiliki kewenangan untuk membaca buku milik orang lain. Di letakkan buku itu pada tempat semula. Kemudian membalikkan badannya dan beranjak pergi. Baru beberapa langkah, dia berhenti. Seandainya, ada orang yang mengambilnya?!
***
Rumah kontrakan yang sempit itu adalah satu-satunya tempat Ia bernaung dari panas dan hujan, selama ia mencari nafkah di kota besar ini, untuk menghidupi keluarganya yang Ia tinggalkan di kampung halamannya. Setelah melepas lelah dan makan malam alakadarnya, ia merebahkan badannya. Pandangannya terhenti pada
sebuah buku di atas lemari tua, satu-satunya benda dalam ruangan itu. Buku bersampul biru yang tadi siang Ia temuakan di bandara tempat Ia bekerja.
***
Aku bangkit dari kursi setelah layar monitor komputerku mati. Kuhampiri jendela lantai dua puluh satu apartemenku. Lalu lintas di bawah sana masih sangat ramai, kulirik jam tanganku, menunjukkan jam 17.35. Pantas saja suasana lalu lintas begitu ramai, dan pantas saja perutku terasa sangat perih. Jam makan siang sudah jauh terlewat rupanya, bahkan sarapanpun merupakan hal yang aneh bagiku. Kusambar jaket kulit kesayanganku, kukenakan sambil berjalan menuju Lift. Kunyalakan Pak menteri B. 511 BR, mobil besar kesayanganku. Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di antrean panjang, sepanjang pusat perkantoran di kota tempat tinggalku saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih spagheti house untuk mengisi perutku yang semakin perih. Ku hampiri satu-satunya meja yang kosong di pojok kanan restoran tersebut. Rupanya banyak juga yang telat makan. Akh, sok tau sekali aku. Mungkin mereka hanya menghabiskan waktu menunggu lalu lintas agak sepi untuk menghindari macet, jadi sekedar duduk-duduk bersama temannya. Tertawa dan bercanda sambil melepas lelah setelah seharian bekerja. Aku memesan Cheese Burger dan segelas cola dingin. Sambil menuggu pesanan, aku buka majalah yang tadi sempat aku beli di depan restoran,
mmm..tidak ada yang menarik perhatianku.
****
Pesananku datang tepat ketika Lima orang anak remaja laki-laki dan seorang perempuan masuk dan langsung jadi pusat perhatian! “Hahahahaha, give me five…” “Lo keren banget waktu maen tadi Sha! Sumpah..!” “yo'a, guee!” Si gadis yang dipanggil “Sha” dengan bola basket ditanganya hanya tersenyum. Gadis itu mengingatkan aku pada sosok “Biru”, satu-satunya gadis paling cuek yang pernah aku kenal yang hingga saat ini tidak mau beranjak dari hatiku.. “Tuhan, apa kabar Biruku…?” bisikku dalam hati. “Sha.. lo mo makan apa?” “mmmm… bentar masi bingung, aku masiiii seneng bangeeeet, aku nggak ngira bakal menang Jo.. ” Tuhan, aku nggak ingin memandang ke arah mereka, tapi sialnya mejaku persis di sebrang meja mereka. Gigitan pertama di Cheese Burgerku terasa sangat pahit menyaksikan kehangatan mereka, menyaksikan cara bicara gadis itu, tawanya, senyumnya.. Akh Tidak! Terbayang dengan jelas sosok Biru lima tahun yang lalu, sama persis dengan gadis pemain basket di depanku! Sejak kecil aku selalu merasa bahwa aku adalah makhluk yangaling dimanjakan oleh Tuhan didunia ini. Bagaimana tidak, akumemiliki orang tua yang penuhcinta dan kehangatan. Mom yangcantik, lembut. Dad yang gagahdan menyenangkan. Aku tidakpernah kekurangan apapunselama hidupku.Tapi pada akhirnya semuaberubah begitu cepat. ketika akuberanjak dewasa dan jatuh cintapada seorang bernama Biru .Seorang perempuan biasa yanglembut, ramah, penuh cinta tapisangat memegang prinsip.“Sam, kamu tahu kita berbeda,kita tidak bisa bersama. Agamayang aku yakini, melarang akumenikah dengan kamu. Aku tidakbisa melanjutkan ini. Ingat Sam,ketika kita sedang berjalan ditepi pantai, semakin kitaketengah akan semakin sulit kitakembali. Selagi kaki-kaki kitabelum basah, selagi kita masih ditepi, sebaiknya kita kembali. Akutidak bisa menjadi kekasihmu. ”saat kau mengucapkan itu, akumelihat dari sorot matamu yangpaling jujur dan aku sangatmeyakininya. rasa cintamupadaku sebesar rasa cintakupadamu. Kenapa pergi Biru?!kenapa?!Tuhan menciptakan sebongkahyang bernama “perasaan” yangindah, tapi sangat sulit akupahami.Begitu pahit dengan cerita sedihyang tidak berkesudahan karenasebuah perbedaan. Tapi jugamembawakan sebongkahkebahagiaan yang tak terhingga.Itulah terakhir aku melihatnya..
***
Hampir satu jam aku berada dipelataran parkir. Tak terasapipiku basah.Ku kenakan kaca mata hitamku.Menghidupkan pak menteri dankeluar dari pelataran parkir.Beberapa orang gadismenatapku, bahkan ada yangnekad berteriak “hai gondrong,godain kita dong..”“so cool banget seeh..”Akh, peduli apa dengan mereka.Inilah aku. Inilah hidupku.Aku membuka pintuapartemenku. Sepiiii… setiap hariselalu seperti ini. Sepiii.. dansepiii..Ku hempaskan tubuhku di ataskarpet di samping tempat tidur.Ku buka laci kecil dan kukeluarkan beberapa pilpenenang dari botolnya.Ku isap dalam-dalam Malboroku.Pahit tercekam ditenggorokanku. Tenggorokankumakin sesak saat kuingat adegandi spagheti house tadi.Sedang apa Biru sekarang..?Semua kenangan seperti filmyang diputar kembali dalamingatanku. Tentang sosokbernama Biru, pertama kalibertemu dengannya saat akudatang ke satu kota untuk ikutujian masuk perguruan tingginegeri.Tidak ada kesan apapun tentangBiru, tapi setelah hampir setiaphari minggu sepulang dari Gerejaaku bertemu dengan dia. Masihtidak ada yang istimewa.Akhirnya aku harus bertemusetiap hari dengan Biru disebuah tempat bimbinganbelajar favorit di kota itu.Masih belum ada yang istimewa..Sampai suatu sore, aku papasanditempat parkir dengan Biru,pandangan kami bertemu, itulahpertama kalinya aku bertatapandengan Biru, saat memandangke dalam matanya ada yangbergetar di dalam sini, dan akutidak tahu itu apa.“Hai..” sapaku“Hai juga.” Biru tersenyumlembut sekilas, tapi sungguhsenyumnya membuat aku salahtingkah.Aku membenikan diri..“Aku Samudra, panggil aja Sam,kita sekelas tapi nggak kenal..”“Aku Biru..”Sejak perkenalan itu, selain ditempat les, kami sering bertemutanpa disengaja, di toko buku, ditoko kaset, di taman bacaan, dilapangan olah raga umum.Biru sipecinta basket.Ntah mulai dari mana, aku makindekat dengan Biru. Biru yangperiang. Biru yang tidak pernahkehabisan ide. Dengannya akubisa tertawa sekeras-kerasnya.Setiap hari minggu, sepulangdari Gereja aku menjemput Birudari mentoring di ITB (sejenissekolah minggu mungkin kalo diagamaku).Aku mulai sering rindu tawanya.Kejahilannya. Ide-ide segarnya.Tidak pernah sekalipun akumerasa bosan ada disampingnya.Aku masih ingat ketika denganhalus Ia menepis tanganku, saattanganku hendak menyentuhpipinya ketika dia menangis.Biru tidak pernah membiarkan
aku menyentuhnya. Diamenyampaikannya begitu halus,kenapa dia tidak mau disentuh.Alasan yang tidak aku pahamipada mulanya, muhrim, khalwat,dan lain-lain. setelah aku kenalRaffa barulah aku mengerti.salahkah aku semakin inginmemilikinya.Isakku tak dapat ku tahan lagi.Aku sangat merindukan Biru.Aku tahu ini sangat cengeng, tapiseolah-olah biru sudah masukkedalam darahku, menyatudengan hatiku, pikiranku. Hah!Ini sungguh gila!Terakhir aku melihatnya limatahun yang lalu sebelum akumemutuskan lari dari rumahsuatu malam di mana untukpertama kalinya tangan Dadmenyentuh pipiku! Lebihtepatnya menampar pipiku!Hardikkannya masih terngiangditelingaku!“Mempelajari Islam?!”“Apa maksud kamu?!!”“Tidak!”Rasa sakit di wajahku tidak
seberapa, tapi sakit di dalam siniyang tak terhingga.Memang aku yang bersalah. Akumelakukan sebuah kesalahanyang tak termaafkan. Aku pantasuntuk mendapat tamparan dariDad.Aku begitu merindukannya.Biru …!Kenangan akan Biru mengusikkukembali.Lima tahun sudah semuanyaBerlalu. Dalam lima tahun itu akutidak pernah berhenti mencaritahu tentang Biru. Aku tahupersis dimana dia berada. Akutahu betul dia sekolah dimana.Aku tahu betul Biru tidakmemiliki kekasih, sampai denganhari ini. Dan benar atau tidak,aku yakin masih ada cintauntukku di hatimu.Sempat terlintas untukmenelponnya saat aku akandiambil sumpah. Seandainya Birutahu, aku berhasil jadi Dokter.Tapi aku belum sempat berbuatuntuk sesame melalui profesiku.
Ntahlah Biru..Aku memang seorang laki-lakiyang egois, aku tidak mudahbergaul, aku tidak punya banyakteman. Aku terlalu sombong danangkuh untuk menunjukkanbahwa aku membutuhkanseseorang.Aku memang terbiasa mandiri.Dan aku mampu melakukanapapun sendiri. Sangat mampu.Yang aku tidak mampu lakukanadalah … berhenti mencintaimu.Berhenti memikirkanmu.Aku bukan orang yang cengengBiru, kamu tahu seumur hidupku,baru tiga kali aku menangis.Tapi hari ini sudah lebih dari duakali aku menagis. Hari ini saja.Aku kesepian Biru..Semakin deras isakku. Aku raihponselku, kutekan sederetnomor yang sudah sangat akuhafal. Hanya saja aku tidaksanggup untuk menyimpannyadi dalam phone bookku.“Halloo.. Assalamualaaikuum…”“Hallo… siapa ini”………………………………Bergetar hatiku mendengarsuara yang sudah sangat akukenal, aku tidak bisa berkata apa-apa.Dinginnya AC ruangan kamarkumembuat hatiku semakin dingindan membeku.Ku hisap rokok terakhirku, pahit.Sepahit apa yang aku rasakansaat ini. Hatiku berdarah.Dengan pakaian lengkap,kubiarkan air dingin deras darishower membasahi rambut danseluruh tubuhku.Cairan hangat semakin derasmengalir di pipiku bersatudengan pancaran air shower.Kelepaskan tangisku sekuatnya,isak yang tadi kutahan pecahsudah. Membuat guncangan dibahuku. Lebih dari satu jam akumenangis di bawah shower.Ku kenakan handuk untukmembungkus badanku yangmulai mengigil. Handukkulangsung basah seketika, daribaju yang aku kenakan.Sayup-sayup terdengar suaraadzan. Hampir setiap subuh akumendengarnya, karena belumsempat memejamkan mata dantertidur.Malam-malam yang panjangkulewati dengan kerja dan kerjamengejar deadline tulisan-tulisanku. Sejak mengenal Biruaku mulai suka menulis dansanggup menghabiskan waktuberjam-jam di depan laptopku.Beberapa karyaku bertebaran
diluar sana.Suara adzan itu tidak pernahsekalipun membuat aku beranjakuntuk shalat. Aku merasa Tuhantidak adil, setelah aku masukIslam, setelah aku belajar banyakhal tentang Islam, setelah akumerasakan perihnya tamparanDad dipipiku. Setelah itu semua.Tuhan tetap saja tidak Bisamempersatukan aku denganBiru.Biru tetap jauh, bahkan semakinjauh, dan semakin sulit akujangkau.Ntah kenapa, pagi ini aku begiturindu shalat. Sesaat aku ragu,masih hafalkah aku bacaanshalat?Apa benar yang dikatakan Raffabahwa aku belum kaffah!Apa itu kaffah?!Apa benar aku tertarik Islamkarena aku menginginkan Biru?!Air wudlu membasahi wajahsembabku, ku ambil sajadahberwarna biru.Aku rentangkan dengan lembutdi atas karpet, lagi-lagi berwarnaBiru.Aku angkat kedua tanganku.Aku menyebut nama-NYa..Bergetar hatiku ketika nama-Nya.Tidak aku duga, bacaan shalatmasih melekat kuat dalamingatanku.Ruku.Sujud.sujud.…Rakaat pertamaku lancar.Rakaat kedua, agak terbata-bata,suaraku tersekat ditenggorokan,saat cairan bening mulai terasahangat di kedua pipiku.Aku meleleh, berserah dirisepenuhnya.Aku serahkan diriku, hidupkudan segala asa yang ada kepadaTuhan, pemilik hidupku.Aku mohon ampunan atas segaladosa, pengkhianatan danpengingkaranku akan kehadirandan cinta-Nya selama ini, begitulama aku berpaling dari-Nya.Begitu lama aku melupakan-Nya.Begitu lama aku hidup dalamkesendirianku tanpamemperdulikan dan tanpamengingat-Nya.Angkuh!Arogan!Aku pura-pura dungu!Pura-pura tidak tahu siapapemilik hidupku.Begitu lama aku terlena danmenggantungkan harapan padaBiru yang juga hanya sekedarmakhluknya, sama dengan aku.Sama dengan yang lain.Sujud terakhirku begitu lama,begitu dalam. Aku sungguh-sungguh merasakan kehadiran-Nya, keindahan berdua sajabersama-Nya. Begitu terasatangan kasih-Nya, mendekapkupenuh cinta.Inilah cinta yang selama ini akucari, Membuatku makin melelehdalam rasa damai.Begitu ringan rasanya tubuhku.Begitu ringan rasanya kepalaku.Beban yang selama inimenghimpitku hilang seketika.Sesak di dadaku hilang dalamsekejap.Maafkan aku Tuhan…Seandainya aku tau bagaimanakeindahan dan kenikmatan yangtak terhingga saat bersama-Muini sejak lama.Tidak akan pernah aku berpaling.Tidak akan pernah akumendustakan kasih dan cinta-Mu.Nyaman tak terhingga, damaiyang utuh. Penuh, menyeluruh.Masih dalam sujud terakhirku.Hening.Suasana dalam ruangan kamarkuhening. Hanya terdengar detakjam dinding.Aku masih sujud dan engganmelepaskan hangat dandamainya berada dalamdekapan-Nya.Kubiarkan diriku disana, dalamsujud panjangku.Perlahan aku rasakan sosok Birumenjauh.Menjauh..Tapi…Dia tersenyum, senyuman yangsudah sangat aku kenal.Apa betul yang aku rasakan ininamanya ikhlas seperti yangdikatakan Raffa.Hening…Tak kudengar lagi suara detakjam dinding kamarku.Tak kudengar lagi suara isaklembut karena bahagia.
***
Biru, pagi ini aku ada di BandaraSoekarno Hatta. Aku akan pergimenunaikan tugasku.Aku harus pergi ke Daerah untukmengabdikan diriku,mengamalkan ilmuku, banyakmereka yang membutuhkanuluran tanganku.Biru, aku sudah menitipkanmupada Tuhan. Aku sudahmelepaskanmu, bukan berartiaku melupakanmu.Aku berani melepasmu, karena-Nya.Berani bukan berarti tidak takut,Biru. Tapi ini pilihanku.Dan aku harus memilih.Benar apa yang kamu katakan,saat itu aku membiarkan kakikuterus berjalan, hingga ketengah,dan aku terluka oleh goresankarang saat aku ingin kembali.Biru, aku akan ke Yogya, disana
aku akan mulai semuanya dariawal, aku akan melakukanbanyak hal untuk saudara kitayang sedang menerima indahnyaujian dari Tuhan..Biru, ini terakhir kalinya akumenulis tentang perasaankupadamu.Mungkin aku tidak akan pernahmenulis lagi.Aku hanya akan menulis betapaindahnya mencintai yangseharusnya kita cintai..Yaitu mencintai-Nya, Biru..Mencintai Tuhan kita..Aku bersyukur Tuhan telahmerengkuhku, dengan caran-Nyasendiri yang begitu unik, yangtidak pernah kita sangka, tidakpernah kita duga.Aku merasa Tuhan bicara padakumelalui sederhananya kamu,bersahajanya kamu, polosnyakamu, apa adanya kamu..Terima kasih Tuhan..sudah saatnya ku kembalikansemua kepada Engkau, Tuhan.
***
Petugas kebersihan bandara itu,menutup lembar terakhir bukubersampul biru dengan gambarTulip kecil sebagai hiasancovernya.Tangan tuanya itu menyeka airmata yang membasahi wajahpenuh garis-garis.Dengan kaki yang mulai terasakesemutan, dia mencoba berdiri.Dibukanya lemari pakaian tuanya,buku itu diselipkan dengan hati-hati diantara beberapa lembarpakaiannya yang terlipat rapi tapisudah sangat usang. Diusapnyadengan lembut buku itu.Sekarang Ia tahu buku itusengaja ditinggalkan, mungkinSam sudah memiliki buku Biruyang baru.Direbahkan tubuhnya diatastikar, sebait doa lembut nan tulusterdengar lirih dari bibir tuanya,untuk seorang Sam, pemudayang tidak pernah dikenalinya.Doa yang tulus, doa yang tanpapamrih. Terpujilah cintamu Sam,engkau kembalikan pada satu-satunya Dzat yang memang layakkamu cintai sepenuhnya.Semoga, Tuhanmempertemukanmu Dengan Birudalam satu ikatan suci kelak, ahseandainya Biru tau bahwa Samsudah menjadi seorang muslimsejak lama.