Di tengah kesunyian sepertiga malam, Asma’ menemui Allah. Airmata tak henti-henti mengucur dari sumbernya, ribuan kali ia berdoa agar kaum Muslimin dapat memenangkan peperangan dengan kafir penjajah itu. Tubuhnya semakin kurus sebab makanan pokok sudah sangat susah didapatkan. Harus sembunyi-sembunyi melewati lorong-lorong ke Mesir yang kini perbatasan Jalur Gaza-Mesir diblokade oleh pemerintah Mesir. Ya Allah, di manakah saudara-saudara kami? Di manakah bagian tubuh kami, apakah mereka tak merasakan sakit seperti yang kami rasakan? Ya Allah, sudah matikah hati mereka sehingga tak dapat lagi merasakan perih pada salah satu anggota tubuhnya? Atau mata mereka telah buta sehingga tak dapat melihat pembantaian ini? Ataukah telinga mereka tuli sehingga tak dapat mendengar jerit tangis kami? Apakah tangan mereka telah lumpuh sehingga tak dapat mengulurkan tangan menolong kami? Ya Allah….apakah kaki mereka telah patah sehingga tak dapat berlari menyongsong kami? Di mana mereka? Kelak hanya kepada-Mulah kami kan mengadu di Hari Pembalasan, di sana keadilan kan ditegakkan. Ya Allah…Engkaulah pemilik masjid al-Aqsha maka Engkau pulalah yang akan menjaganya….
“Wahai Asma’!” Firaz telah berdiri di sampingnya. “Mengapa engkau menangis?” “Hai Firaz! Tidak bolehkah aku menangis di hadapan kekasihku?” Firaz yang masih sangat belia itu lalu menceritakan pengalaman ia sehari ini melempari tentara Israel dengan batu-batu tajam. Seorang tentara yang lengah terkena dahinya sehingga darah mengucur deras dan paniklah ia. Itu mengacaukan laju tank mereka, membuat Firaz dan teman-temannya semakin semangat melempari mereka dengan batu.
“Asma’, sudah siapkah engkau menikah?”
Asma’ tentu saja kaget mendengar pertanyaan itu. Ia belum sempat memikirkan masalah itu. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya murid-muridnya bisa menjadi mujahid-mujahidah pemberani tanpa rasa takut sedikitpun. Menikah baginya adalah suatu gambaran mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Dengan siapakah ia akan menikah, ia tak tahu.
“Menikahlah Asma’! Aku akan menjadi walimu.”
Asma’ teringat Ayahnya yang tewas dibantai tentara Israel sepuluh tahun lalu ketika ia masih kecil. Sedangkan ibunya sudah syahidah ketika melahirkan Firaz. Mereka kini hidup sebatangkara.
Sinar mata Firaz begitu tajam, menghujamkan keyakinan di hati Asma’. Menikah? Dengan siapa?
“Kau akan kunikahkan dengan sahabatku, Abdurrahman namanya. Dia penembak jitu. Setiap batu yang ia lemparkan, nyaris selalu tepat mengenai tentara Israel. Dia kuridhoi agama dan akhlaknya. Insya Allah dia akan menjadi ayah bagi para mujahidmu. Bersamanya, kau akan ke surga, Insya Allah. Menikahlah Asma’, sesungguhnya aku ingin sekali melihatmu bahagia. Kita harus mempersiapkan banyak mujahid agar bisa melanjutkan perjuangan kita…” kini Firaz menepuk pundak Asma’.
Asma’ hanya diam. Seakan-akan ia pernah mendengar nama yang tadi Firaz sebutkan, namun entah di mana. Hanya sayup-sayup…
Firaz tersenyum, “Diammu adalah persetujuanmu.”
***
Tiga hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Asma’ telah membuat sebuah baju pengantin dengan tangannya sendiri. Sejauh ini ia belum pernah bertemu dengan Abdurrahman. Lelaki itu, bersama adiknya selalu berangkat pagi untuk melawan tentara Israel dan pulang tengah malam dengan hasil yang luar biasa. Banyak tentara Israel yang terluka oleh batu-batu yang dilemparkan mereka.
Menanti mujahidnya itu datang, Asma’ senantiasa bersabar mendengar kabar yang menyedihkan sekaligus membahagiakan. Satu persatu murid-muridnya berkurang karena mereka menjadi syuhada perang. Termasuk Umar, pagi tadi ia ditemukan dalam kondisi tubuh terkoyak karena jenazah yang sudah ditembak tentara Israel dimakan oleh anjing-anjing mereka. Airmata Asma’ menetes haru. Kini, semakin sedikitlah muridnya, mereka yang sudah menghafal al-Qur’an dalam usia dini, gugur sebagai syuhada. Maka hari bahagia itu pun datanglah. Asma’ duduk di dalam kamarnya sementara di masjid sedang dilangsungkan akad nikah. Berarti, pagi ini Abdurrahman tidak melempari tentara Israel dengan batu. Berdebar hati Asma’ menanti kedatangannya, yang belum pernah dilihatnya tetapi jika ia sudah mengetuk pintu, artinya dia adalah seorang lelaki yang harus ia cium tangannya. Harus ia patuhi sepenuh hati. Dan dialah Khalifah rumah tangganya.
Waktu terus merayap, hingga waktu dluha telah habis namun pengantinnya tak kunjung mengetuk pintu kamarnya. Lama sekali….
Hingga ahirnya pintu diketuk, Asma’ membukanya ternyata Firaz datang dengan kepala menunduk. Tangan kanannya memegangi perut bagian kirinya “Hai Asma…” suaranya lirih.
Asma’ menahan nafas, menanti kalimat Firaz selanjutnya. “Katakan wahai Firaz!”
“Abdurrahman sudah menjadi suamimu…”
Asma’ mengucap hamdalah.
“Akan tetapi….Allah telah memintanya darimu. Apakah engkau ridho? Selepas akad nikah tadi, dengan ganas tentara Israel masuk dan menembaki siapapun yang ada di masjid. Aku pun…. ah….” ia roboh ke lantai. Tangan kanannya terlepas dari perutnya yang mengucurkan darah segar.
“Masya Allah!” Asma’ merangkul saudaranya, sehingga penuh darahlah baju pengantinnya yang putih dan bersih itu. Rupanya Firaz masih mampu berlari menuju Asma’ untuk memberitahukan kabar gembira bahwa Abdurrahman telah menjadi suami Asma’.
“Laa ilaaha illallah…Muhammad Rasulullah….Allahu Akbar…..” tak lama kemudian, mata Firaz terpejam dengan tenang.
Belum sempat bagi Asma’ untuk menangis, ia melihat dua tentara Israel mendobrak paksa pintu rumahnya. Melihat Asma’ begitu anggun tanpa cadar, membuat dua tentara bengis itu terbakar nafsu hendak menodai pengantin itu. Asma’ begitu marah, hingga rasanya ia ingin balas menyiksa tentara Israel tersebut. Mereka telah membunuh seluruh keluarganya, termasuk suami yang belum pernah dilihat sekalipun wajahnya. Beberapa bongkah batu di dekat Asma’ seakan berbicara padanya, “ambil aku! Lemparkan aku pada mereka, biarkan aku yang menerkamnya atas izin Allah!”.
Asma’ pun meraihnya dan melemparlan tepat di kening seorang tentara. Ia panik. Darah mengucur di wajahnya. Lalu seorang lagi ia lempar dengan batu yang lain hingga keadaannya sama seperti temannya. Mereka meraung. Asma’ segera keluar rumah dengan berlari, ia ingin ke masjid menemui jasad suaminya. Ia ingin mencium tangannya untuk pertama dan terakhir meski dalam keadaan tak bernyawa. Ia terus berlari… Namun, sebelum Asma’ bertemu dengan suaminya di masjid itu, seorang tentara Israel yang sedang berkeliaran di jalan menembaknya dari belakang.
Benda tajam rasanya memotong-motong seluruh tubuhnya. Lama kelamaan ia lemas dan pengantin itu pun roboh ke tanah, sedikit lagi saja untuk sampai ke masjid.
Sebelum nafas terakhirnya terhembus, sebelum dua kalimat syahadat ia senandungkan, ia melihat Abdurrahman untuk pertama kalinya sedang tersenyum padanya dan mengajaknya berjalan berdua. Hanya berdua.
“Wahai Asma’!” Firaz telah berdiri di sampingnya. “Mengapa engkau menangis?” “Hai Firaz! Tidak bolehkah aku menangis di hadapan kekasihku?” Firaz yang masih sangat belia itu lalu menceritakan pengalaman ia sehari ini melempari tentara Israel dengan batu-batu tajam. Seorang tentara yang lengah terkena dahinya sehingga darah mengucur deras dan paniklah ia. Itu mengacaukan laju tank mereka, membuat Firaz dan teman-temannya semakin semangat melempari mereka dengan batu.
“Asma’, sudah siapkah engkau menikah?”
Asma’ tentu saja kaget mendengar pertanyaan itu. Ia belum sempat memikirkan masalah itu. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya murid-muridnya bisa menjadi mujahid-mujahidah pemberani tanpa rasa takut sedikitpun. Menikah baginya adalah suatu gambaran mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Dengan siapakah ia akan menikah, ia tak tahu.
“Menikahlah Asma’! Aku akan menjadi walimu.”
Asma’ teringat Ayahnya yang tewas dibantai tentara Israel sepuluh tahun lalu ketika ia masih kecil. Sedangkan ibunya sudah syahidah ketika melahirkan Firaz. Mereka kini hidup sebatangkara.
Sinar mata Firaz begitu tajam, menghujamkan keyakinan di hati Asma’. Menikah? Dengan siapa?
“Kau akan kunikahkan dengan sahabatku, Abdurrahman namanya. Dia penembak jitu. Setiap batu yang ia lemparkan, nyaris selalu tepat mengenai tentara Israel. Dia kuridhoi agama dan akhlaknya. Insya Allah dia akan menjadi ayah bagi para mujahidmu. Bersamanya, kau akan ke surga, Insya Allah. Menikahlah Asma’, sesungguhnya aku ingin sekali melihatmu bahagia. Kita harus mempersiapkan banyak mujahid agar bisa melanjutkan perjuangan kita…” kini Firaz menepuk pundak Asma’.
Asma’ hanya diam. Seakan-akan ia pernah mendengar nama yang tadi Firaz sebutkan, namun entah di mana. Hanya sayup-sayup…
Firaz tersenyum, “Diammu adalah persetujuanmu.”
***
Tiga hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Asma’ telah membuat sebuah baju pengantin dengan tangannya sendiri. Sejauh ini ia belum pernah bertemu dengan Abdurrahman. Lelaki itu, bersama adiknya selalu berangkat pagi untuk melawan tentara Israel dan pulang tengah malam dengan hasil yang luar biasa. Banyak tentara Israel yang terluka oleh batu-batu yang dilemparkan mereka.
Menanti mujahidnya itu datang, Asma’ senantiasa bersabar mendengar kabar yang menyedihkan sekaligus membahagiakan. Satu persatu murid-muridnya berkurang karena mereka menjadi syuhada perang. Termasuk Umar, pagi tadi ia ditemukan dalam kondisi tubuh terkoyak karena jenazah yang sudah ditembak tentara Israel dimakan oleh anjing-anjing mereka. Airmata Asma’ menetes haru. Kini, semakin sedikitlah muridnya, mereka yang sudah menghafal al-Qur’an dalam usia dini, gugur sebagai syuhada. Maka hari bahagia itu pun datanglah. Asma’ duduk di dalam kamarnya sementara di masjid sedang dilangsungkan akad nikah. Berarti, pagi ini Abdurrahman tidak melempari tentara Israel dengan batu. Berdebar hati Asma’ menanti kedatangannya, yang belum pernah dilihatnya tetapi jika ia sudah mengetuk pintu, artinya dia adalah seorang lelaki yang harus ia cium tangannya. Harus ia patuhi sepenuh hati. Dan dialah Khalifah rumah tangganya.
Waktu terus merayap, hingga waktu dluha telah habis namun pengantinnya tak kunjung mengetuk pintu kamarnya. Lama sekali….
Hingga ahirnya pintu diketuk, Asma’ membukanya ternyata Firaz datang dengan kepala menunduk. Tangan kanannya memegangi perut bagian kirinya “Hai Asma…” suaranya lirih.
Asma’ menahan nafas, menanti kalimat Firaz selanjutnya. “Katakan wahai Firaz!”
“Abdurrahman sudah menjadi suamimu…”
Asma’ mengucap hamdalah.
“Akan tetapi….Allah telah memintanya darimu. Apakah engkau ridho? Selepas akad nikah tadi, dengan ganas tentara Israel masuk dan menembaki siapapun yang ada di masjid. Aku pun…. ah….” ia roboh ke lantai. Tangan kanannya terlepas dari perutnya yang mengucurkan darah segar.
“Masya Allah!” Asma’ merangkul saudaranya, sehingga penuh darahlah baju pengantinnya yang putih dan bersih itu. Rupanya Firaz masih mampu berlari menuju Asma’ untuk memberitahukan kabar gembira bahwa Abdurrahman telah menjadi suami Asma’.
“Laa ilaaha illallah…Muhammad Rasulullah….Allahu Akbar…..” tak lama kemudian, mata Firaz terpejam dengan tenang.
Belum sempat bagi Asma’ untuk menangis, ia melihat dua tentara Israel mendobrak paksa pintu rumahnya. Melihat Asma’ begitu anggun tanpa cadar, membuat dua tentara bengis itu terbakar nafsu hendak menodai pengantin itu. Asma’ begitu marah, hingga rasanya ia ingin balas menyiksa tentara Israel tersebut. Mereka telah membunuh seluruh keluarganya, termasuk suami yang belum pernah dilihat sekalipun wajahnya. Beberapa bongkah batu di dekat Asma’ seakan berbicara padanya, “ambil aku! Lemparkan aku pada mereka, biarkan aku yang menerkamnya atas izin Allah!”.
Asma’ pun meraihnya dan melemparlan tepat di kening seorang tentara. Ia panik. Darah mengucur di wajahnya. Lalu seorang lagi ia lempar dengan batu yang lain hingga keadaannya sama seperti temannya. Mereka meraung. Asma’ segera keluar rumah dengan berlari, ia ingin ke masjid menemui jasad suaminya. Ia ingin mencium tangannya untuk pertama dan terakhir meski dalam keadaan tak bernyawa. Ia terus berlari… Namun, sebelum Asma’ bertemu dengan suaminya di masjid itu, seorang tentara Israel yang sedang berkeliaran di jalan menembaknya dari belakang.
Benda tajam rasanya memotong-motong seluruh tubuhnya. Lama kelamaan ia lemas dan pengantin itu pun roboh ke tanah, sedikit lagi saja untuk sampai ke masjid.
Sebelum nafas terakhirnya terhembus, sebelum dua kalimat syahadat ia senandungkan, ia melihat Abdurrahman untuk pertama kalinya sedang tersenyum padanya dan mengajaknya berjalan berdua. Hanya berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar